26 Mei 2026 - 19:25
Dosen Universitas Seni Iran: Rezim Pahlavi Menebas Tubuh Warisan Nasional Iran

Hujjatul Islam wal Muslimin Dr. Ya’qubzadeh, anggota dewan akademik Universitas Seni Iran, menilai bahwa rezim Pahlavi telah melakukan penghancuran sistematis terhadap warisan budaya, Islam, dan identitas nasional Iran.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait – ABNA – dalam sebuah forum di Kantor Berita ABNA, Dr. Ya’qubzadeh menjelaskan bahwa kebijakan Pahlavi terhadap warisan Iran dibangun di atas tiga unsur berbahaya: “arkeologisme ekstrem”, “anti-Islam”, dan “westernisasi”.

Ia menegaskan bahwa klaim Pahlavi sebagai penjaga warisan kuno Iran hanyalah kedok untuk merampas kekayaan nasional dan memutus hubungan masyarakat Iran dengan identitas Islam mereka. Menurutnya, banyak peninggalan asli Iran justru memenuhi museum-museum Amerika, Inggris, dan Prancis, sementara di dalam negeri identitas historis bangsa dihancurkan.

Dr. Ya’qubzadeh menyebut penghancuran gerbang-gerbang bersejarah Tehran, bangunan Qajar dan Safawi, serta Tekiyeh Dowlat sebagai contoh nyata kebijakan “bumi hangus” Pahlavi terhadap warisan masa lalu. Ia mengatakan, Reza Khan tidak ingin menyisakan jejak Qajar dan menggunakan modernisasi sebagai alasan untuk merobohkan simbol-simbol sejarah.

Dalam bagian lain, ia menyoroti kebijakan anti-Islam Pahlavi, termasuk pelarangan hijab dan penindasan terhadap pakaian ulama. Menurutnya, kebijakan tersebut bukan hanya serangan terhadap agama, tetapi juga terhadap akar budaya Iran sendiri, sebab hijab dan pakaian tradisional memiliki jejak kuat dalam sejarah Iran sebelum Islam.

Ia juga mengkritik pendirian “Organisasi Pembinaan Pemikiran” pada masa Pahlavi yang disebutnya sebagai mesin pencucian otak untuk membentuk masyarakat peniru Barat. Menurutnya, rezim Pahlavi menanamkan budaya “kita tidak mampu” dan menyerahkan berbagai urusan bangsa kepada penasihat asing.

Dr. Ya’qubzadeh turut menyinggung peran lembaga-lembaga Barat dalam penggalian dan pengangkutan peninggalan Iran, termasuk keluarnya ribuan tablet tanah liat dan benda bersejarah dari Persepolis. Ia menyebut aturan warisan budaya era Pahlavi membuka jalan legal bagi pengalihan sebagian besar temuan arkeologis Iran kepada pihak asing.

Di akhir pertemuan, ia menilai bahwa warisan paling berbahaya rezim Pahlavi adalah penciptaan dikotomi palsu antara “keiranian” dan “keislaman”. Menurutnya, Pahlavi menjadikan arkeologisme sebagai alat untuk Islamofobia dan memaksa masyarakat memilih antara agama dan identitas nasional, padahal keduanya merupakan bagian tak terpisahkan dari jati diri bangsa Iran.

Your Comment

You are replying to: .
captcha